Skip to main content

Mencengangkan!! Misteri Masalah Masalah Besar Di Indonesia

 

Misteri kasus besar di Indonesia - orang hilang atau terbunuh di luar negeri sering menjadi misteri yang tidak terpecahkan. Diantara mereka sempat menjadi pembicaraan publik seantero jagat. Bagaimana dengan Indonesia? apakah mempunyai kasus orang hilang atau terbunuh yang tetap menjadi misteri yang tidak terpecahkan hingga ketika ini? Berikut kasus besar di Indonesia yang tetap menjadi misteri hingga hari ini.

1. Kasus Menghilangnya Edy Tansil

 orang hilang atau terbunuh di luar negeri sering menjadi misteri yang tidak terpecahkan MENCENGANGKAN!! Misteri Kasus Kasus Besar Di Indonesia

Edy Tansil yakni seorang pengusaha keturunan yang mempunyai nama orisinil Tan Tjoe Hong/Tan Tju Fuan yang menjadi narapidana dan harus mendekam selama 20 tahun di penjara Cipinang atas kasus kredit macet Bank Bapindo yang merugikan negara senilai 565 juta dollar (1.5 T rupiah dengan kurs dollar ketika itu). Edy Tansil dilaporkan kabur dari penjara pada tanggal 4 Mei 1996 dan 20 petugas LP Cipanang dijadikan tersangka lantaran dianggap membantu Edy Tansil melarikan diri dan semenjak itu keberadaan dari Edy Tansil menyerupai raib ditelan bumi.

Sebuah LSM pengawas anti-korupsi berjulukan Gempita melaporkan bahwa Edy Tansil tengah menjalankan bisnis sebuah perusahaan bir yang menerima lisensi dari perusahaan bir Jerman berjulukan Becks Beer Company di kota Pu Tian Provinsi Fujian China.

Di tahun 2007 Tempo interactive melaporkan bahwa tim pemburu koruptor (TPK) berdasarkan temuan dari PPATK menyatakan akan segera memburu Edy Tansil dimana PPATK menemukan bukti bahwa buronan tersebut telah melaksanakan transfer uang ke Indonesia setahun sebelumnya. Namun hingga kini keberadaan Edy Tansil tetap masih menjadi misteri.

Ada beberapa koruptor yang juga melarikan diri ke luar negri dan hingga kini keberadaan mereka tidak terungkap atau belum tertangkap menyerupai Adelin Lis, Sjamsul Nursalim, David Nusa Wijaya, Maria Pauline, Djoko S Tjandra, Marimutu Sinivasan, Hendra Rahardja, Sukanto Tanoto dan masih banyak lainnya.

2. Menghilangnya 13 Aktifis menjelang Reformasi

 orang hilang atau terbunuh di luar negeri sering menjadi misteri yang tidak terpecahkan MENCENGANGKAN!! Misteri Kasus Kasus Besar Di Indonesia

Menjelang Reformasi di tahun 1998 ada sekitar 13 orang aktivis yang diculik paksa oleh militer dan hingga kini keberadaan mereka masih menjadi misteri, jikalau mereka sudah meninggal dimanakah mereka dikuburkan dan alasan apa yang mengakibatkan sehingga militer menculik ke-13 orang pelopor ini. Mereka yakni Yanni Afri, Sonny, Herman Hendrawan, Dedy Umar, Noval Alkatiri, Ismail, Suyat, Ucok Munandar Siahaan, Petrus Bima Anugerah, Widji Tukul, Hendra Hambali, Yadin Muhidin dan Abdun Nasser.

Pasukan Kopassus dari tim mawar dianggap bertanggung jawab atas bencana menghilangnya ke-13 pelopor tersebut dimana ada 24 orang yang diculik namun 9 orang berhasil bebas yakni Aan Rusdiyanto, Andi Arief, Desmon J Mahesa, Faisol Reza, Haryanto Taslam, Mugiyanto, Nezar Patria, Pius Lustrilanang dan Raharja Waluya Jati.

Sementara 1 orang lagi yakni Leonardus Nugroho (Gilang) yang sempat dinyatakan hilang kemudian 3 hari kemudian ditemukan telah meninggal dunia di Magetan dengan luka tembak dikepalanya. Karena kasus ini sempat menciptakan heboh di tahun 1998 dan atas desakan aneka macam pihak didalam maupun luar negri pada tanggal 3 Agustus 1998 Panglima ABRI ketika itu, Jend Wiranto membentuk Dewan Kehormatan Perwira yang diketuai oleh Jend Tentara Nasional Indonesia Soebagyo HS yang ketika itu menjabat sebagai KSAD, dan wakil ketua terdiri dari Let Jen Tentara Nasional Indonesia Fahrur Razi (Kasum ABRI), Let Jen Yusuf Kartanegara (Irjen Dephankam) dan anggota yang terdiri dari : Let Jen Soesilo Bambang Yudhoyono yang kini menjadi Presiden RI (Kassospol ABRI), Let Jen Agum Gumelar (Gubernur Lemhanas), Let Jen Djamiri Chaniago (Pangkostrad) dan Laksdya Achmad Sutjipto (Danjen AKABRI).

Pada tanggal 24 Agustus 1998 Letnan Jendral Prabowo Subianto selaku Panglima Komando Cadangan Strategis (Pangkostrad) diberhentikan dari dinas kemiliteran. Menindaklanjuti keputusan dari Menteri Pertahana/Panglima ABRI Jendral Wiranto, dilakukan penyelidikan oleh PUSPOM ABRI dan selanjutnya diketahui bahwa tim mawar dari Kopassus diduga bertanggung jawab terhadap kasus penculikan dan penghilangan secara paksa para pelopor 1998 tersebut.

11 anggota Kopassus diadili secara militer namun KONTRAS dalam siaran pers nya menyebutkan :"Proses peradilan terhadap 11 anggota Kopassus terdakwa penculikan itu tidak lebih hanya sebuah rekayasa aturan untuk memutus pertanggung balasan Letnan Jendral Prabowo Subianto yang bekerjsama paling bertanggung jawab atas operasi ini. Hal tersebut terperinci bertolak belakang dengan hasil pemeriksaan DKP yang menunjukan bahwa Letjen Prabowo lah yang bertanggung jawab atas penculikan itu, lantaran itulah kesudahannya ia dipensiunkan. Makara secara keseluruhan kami berkesimpulan bahwa persidangan itu tidak lebih dari sebuah pertunjukan banyolan yang tidak lucu. Oleh alasannya itu KontraS bersama keluarga korban tetap menuntut Letjen Prabowo Subianto, Mayjen Muchdi PR serta Kolonel Chairawan segera diseret ke pengadilan sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas kasus penculikan ini”

 Pembacaan putusan pengadilan Mahkamah Militer Tinggi (Mahmilti) II Jakarta dengan nomor kasus PUT. 25 – 16 / K- AD / MMT – II/ IV/ 1999. Isi dari keputusan pengadilan menyatakan ;
No Nama Terdakwa Vonis / Hukuman
1 Mayor (Inf) Bambang Kristiono 22 bulan / dipecat, 2 Kapten (Inf) F.S Multhazar 20 bulan / dipecat, 3 Kapten (Inf) Nugroho Sulistyo 20 bulan / dipecat, 4 Kapten (Inf) Yulius Stevanus 20 bulan / dipecat, 5 Kapten (Inf) Untung Budi Harto 20 bulan / dipecat, 6 Kapten (Inf) Dadang Hendra Yuda 16 bulan / dipecat, 7 Kapten (Inf) Djaka Budi Utama 16 bulan / dipecat, 8 Kapten (Inf) Fauka Noor Farid 16 bulan / dipecat, 9 Sersan Kepala Sunaryo 12 bulan / dipecat, 10 Sersan Kepala Sigit Sugianto 12 bulan / dipecat, 11 Sersan Satu Sukadi 12 bulan / dipecat

Namun proses pengadilan tersebut tetap saja tidak menyampaikan kepastian dimanakah mereka menahan para pelopor tersebut dan jikalau sudah meninggal dimanakah mereka menguburkan atau membuang mayat ke-13 pelopor yang hilang tersebut.

3. Penembak Misterius Petrus 1982-1985.

 orang hilang atau terbunuh di luar negeri sering menjadi misteri yang tidak terpecahkan MENCENGANGKAN!! Misteri Kasus Kasus Besar Di Indonesia

Petrus atau juga dikenal sebagai operasi clurit dianggap oleh banyak orang sebagai sebuah operasi rahasia dimasa pemerintahan Orde Baru untuk menghabisi para Gali (Gabungan anak liar) dan Preman yang dianggap meresahkan dan mengganggu keamanan dan ketentraman masyarakat kala itu. Hingga kini para pelaku Petrus tidak pernah tertangkap dan tidak terperinci siapa pelakunya. Kemungkinan besar adanya operasi ini lantaran aba-aba dari Presiden Soeharto di tahun 1982 ketika menyampaikan penghargaan kepada Kapolda Metro Jaya, Anton Soedjarwo atas keberhasilannya membongkar kasus perampokan yang meresahkan masyarakat, kemudian ditahun yang sama Soeharto kembali meminta Polisi dan ABRI dihadapan RAPIM ABRI untuk mengambil langkah pemberantasan yang efektif dalam menekan angka kriminalitas.

Karena usul atau perintah Soeharto disampaikan pada program kenegaraan yang istimewa, sambutan yang dilaksanakan oleh petinggi pegawapemerintah keamanan pun sangat serius. Permintaan Soeharto itu sontak disambut oleh Pangkopkamtib Laksamana Soedomo melalui rapat koordinasi bersama Pangdam Jaya, Kapolri, Kapolda Metro Jaya dan Wagub DKI Jakarta yang berlangsung di Markas Kodam Metro Jaya 19 Januari 1983. Dalam rapat yang membahas ihwal keamanan di ibukota itu kemudian diputuskan untuk melaksanakan operasi untuk menumpas kejahatan bersandi Operasi Celurit di Jakarta dan sekitarnya. Operasi Celurit itu selanjutnya diikuti oleh Polri/ABRI di masing-masing kota serta provinsi lainnya. Para korban Operasi Celurit pun mulai berjatuhan.

Petrus pada awalnya beraksi secara rahasia namun lambat laun agresi mereka menyerupai sebuah teror angker bagi para bromocorah dan preman di kota-kota besar,  pada tahun 1983 berhasil menumbangkan 532 orang yang dituduh sebagai pelaku kriminal. Dari semua korban yang terbunuh, 367 orang di antaranya tewas akhir luka tembakan. Tahun 1984 korban Petrus (Penembak Misterius) yang tewas sebanyak 107 orang, tapi hanya 15 orang yang tewas oleh tembakan. Sementara tahun 1985, tercatat 74 korban Petrus (Penembak Misterius) tewas dan 28 di antaranya tewas lantaran tembakan. Secara umum para korban Petrus ketika ditemukan dalam kondisi tangan dan leher terikat. 

Kebanyakan korban dimasukkan ke dalam karung dan ditinggal di tepi jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai, hutan-hutan, dan kebun. Yang niscaya pelaku Petrus terkesan tidak mau bersusah-susah membuang korbannya lantaran bila gampang ditemukan imbas shock therapy yang disampaikan akan lebih efektif. Sedangkan tumpuan pengambilan para korban kebanyakan diculik oleh orang tak dikenal atau dijemput pegawapemerintah keamanan. Akibat isu yang demikian gencar mengenai Petrus yang berhasil membereskan ratusan penjahat, para petinggi negara pun kesudahannya berkomentar.

Ketika isu serupa hampir tiap hari muncul di seantero Jakarta dan massa mulai membicarakan masalah penembakan misterius, Benny Moerdani sebagai Panglima Kopkamtib seusai menghadap Presiden Soeharto kemudian memberi pernyataan kepada pers bahwa penembakan gelap yang terjadi mungkin timbul akhir perkelahiaan antar geng bandit. “Seiauh ini belum pernah ada perintah tembak di tempat bagi peniahat yang ditangkap” komentar Benny. Dan tak ada seorang pun wartawan yang ketika itu berani melaniutkan pertanyaan kepada jenderal yang dikenal sangat tegas dan agresif itu.

Kepala Bakin ketika itu, Yoga Soegama juga menyampaikan pernyataan yang bernada enteng bahwa masyarakat tak perlu mempersoalkan para penjahat yang mati secara misterius. Tapi pernyataan yang dilontarkan man-tan wapres H. Adam Malik justru bertolak belakang sehingga menciptakan kasus penembakan misterius tetap merupakan bencana serius dan harus diperhatikan oleh pemerintah RI yang selalu menjunjung tinggi hukum. “Jangan mentangmentang penjahat dekil pribadi ditembak, bila perlu diadili hari ini pribadi besoknya dieksekusi mati. Makara syarat sebagai negara aturan sudah terpenuhi,” kecam Adam Malik sambil menekankan, “Setiap perjuangan yang bertentangan dengan aturan akan membawa negara ini pada kehancuran.”
Tindakan tegas para Penembak Misterius (Petrus) pada kesudahannya memang menyulut pro dan kontra. Pendapat yang pro, Petrus pantas diterapkan kepada sasaran yang memang jelas-jelas penjahat. Sebaliknya pendapat yang kontra menyatakan keberatannya jikalau sasaran Petrus hanya penjahat kelas teri atau mereka yang hanya mempunyai tato tapi bukan penjahat beneran. Pendapat atau komentar yang cukup kontroversial yakni yang dikemukakan oleh Menteri Luar Negeri Belanda, Hans van den Broek, yang secara kebetulan sedang berkunjung ke Jakarta pada awal Januari tahun 1984. 

Setelah bertemu dengan Menlu Mochtar Kusumaatmadja, Broek secara mengejutkan berharap bahwa pembunuhan yang telah mejnakan korban jiwa sebanyak 3.000 orang itu pada waktu mendatang diakhiri dan Indonesia juga dibutuhkan sanggup melaksanakan konstitusi dengan tertib hukum. Menlu Mochtar sendiri menjawab bahwa bencana pembunuhan misterius itu terjadi akhir meningkatnya angka kejahatan yang mendekati tingkat terorisme sehingga masyarakat merasa tidak kondusif dan main hakim sendiri.

Atas pernyataan Menlu Belanda itu, Benny yang merasa kebakaran jenggot sekali lagi harus tampil untuk meluruskan tuduhan tadi. Ia kembali menegaskan bahwa pembunuhan yang terjadi lantaran perkelahian antar geng. “Ada orang-orang yang mati dengan luka peluru, tetapi itu akhir melawan petugas. Yang berbuat itu bukan pemerintah. Pembunuhan itu bukan budi pemerintah,” tegasnya. Namun masalah penembakan itu kesudahannya tidak lagi misterius meskipun para pelakunya hingga ketika ini tetap misterius dan tidak terungkap. 

Beberapa tahun kemudian Presiden Soeharto justru menyampaikan uraian ihwal latar belakang permasalahannya dimana ia menyampaikan Tindakan keamanan tersebut memang terpaksa dilakukan setelah agresi kejahatan yang terjadi di kota-kota besar Indonesia semakin brutal dan makin meluas. Seperti tertulis dalam bukunya Benny Moerdani hal 512-513 Pak Harto berujar : “Dengan sendirinya kita harus mengadakan treatment therapy, tindakan yang tegas. Tindakan tegas bagaimana? Ya harus dengan kekerasan. Tetapi kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan, dor-dor! Begitu saja. Bukan! Tetapi yang melawan, ya mau tidak mau harus ditembak. Karena melawan, maka mereka ditembak. 

Lalu ada yang mayatnya ditinggalkan begitu saja. Itu untuk shock therapy, terapi goncangan. Supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang sanggup bertindak dan mengatasinya. Tindakan itu dilakukan supaya sanggup menumpas semua kejahatan yang sudah melampui batas perikemanusiaan. Maka kemudian redalah kejahatan-kejahatan yang menjijikkan itu”

Namun jikalau para petinggi militer maupun presiden sendiri menyatakan bahwa penembakan terhadap para preman lantaran melawan ketika hendak ditangkap bagaimana Moerdani menjelaskan para korban Penembakan Misterius yang ditemukan dalam goni-goni dengan tangan terikat atau yang dihanyutkan di sungai? atas kordinasi siapakah para Penembak Misterius itu menjalankan perintah?

4. Kasus Kematian Peragawati Terkenal Dietje

 orang hilang atau terbunuh di luar negeri sering menjadi misteri yang tidak terpecahkan MENCENGANGKAN!! Misteri Kasus Kasus Besar Di Indonesia

Diera tahun 1980an ada seorang peragawati ternama yang anggun berjulukan Dietje yang berjulukan lengkap Dietje (Dice) Budimulyono/Dice Budiarsih, ia tewas dibunuh dengan tembakan berulang kali oleh seorang yang mahir dalam menembak kemudian mayat nya dibuang disebuah kebun karet dibilangan kalibata yang kini menjadi komplek perumahan DPR. Setelah kasus tersebut marak di media massa, Polisi kesudahannya menangkap seorang bau tanah renta yang nama aslinya tidak diketahui dan hanya dikenal dengan panggilan Pakde dikenal juga sebagai Muhammad Siradjudin, konon ia yakni seorang dukun. Yang entah dengan alasan dan motif apa yang tidak terperinci ia dianggap sebagai pembunuh Dietje. Bagi Polis Motif tidak begitu penting lantaran Polisi mengungkapkan bahwa "katanya" mereka "Memiliki bukti yang kuat".

Pak De membantah sebagai pembunuh Ditje menyerupai yang tercantum dalam BAP yang dibuat polisi. Pengakuan itu, berdasarkan Pak De dibuat lantaran tak tahan disiksa polisi termasuk anaknya yang menderita patah rahang. Ketika itu, Pak De mengajukan alibi bahwa Senin malam ketika pembunuhan terjadi, ia berada di rumah bersama sejumlah rekannya. Saksi-saksi yang meringankan untuk memperkuat alibi ketika itu juga hadir di pengadilan. Namun, saksi dan alibi yang meringankan itu tak dihiraukan majelis hakim.

Akhirnya Pakde dijatuhi sanksi penjara seumur hidup namun publik ketika itu sudah mengetahui rumor bahwa Dietje menjalin hubungan asmara dengan menantu dari orang paling berkuasa di Indonesia ketika itu. Dan tentu saja kasus menyerupai ini tidak akan pernah terungkap dengan benar. Karena pemilik informasi satu-satunya kepada media atau publik berasal dari polisi. Dan sanggup jadi, publik digiring dengan sekuat tenaga, untuk ‘meyakini’ bahwa benarlah yang membunuh Dietje yakni Pakde.

Dietje disebutkan digunakan sebagai "Jasa" oleh seorang eks petinggi militer yang terjun ke dunia perjuangan dan untuk memuluskan bisnisnya Dietje digunakan oleh sang eks petinggi militer untuk menyenangkan menantu orang paling berkuasa di Indonesia,  Hasil dari jasa Dietje, sang ‘jenderal’ pengusaha menerima satu kontrak besar pembangunan sebuah bandar udara modern. Tapi hubungan Dietje berlanjut jauh dengan sang menantu. Ketika perselingkuhan itu ‘bocor’ ke keluarga besar, keluar perintah memberi pelajaran kepada Dietje, hanya saja ‘kebablasan’ menjadi suatu pembunuhan. Dietje ditembak di cuilan kepala pada suatu malam tatkala mengemudi sendiri mobilnya di jalan keluar kompleks kediamannya di kawasan Kalibata. Pak ‘De’ Siradjuddin yang dikenal sebagai guru spiritualnya dikambinghitamkan, ditangkap, dipaksa mengakui sebagai pelaku, diadili dijatuhi sanksi seumur hidup dan sempat dipenjara bertahun-tahun lamanya, Hingga kesudahannya Pak De menerima pengampunan sanksi dari Presiden BJ Habibi dimana sanksi Pak De dirubah dari seumur hidup menjadi 20 tahun di tahun 1999.

Akhirnya 27 Desember 2000 Pak De sanggup meninggalkan hotel prodeo setelah pemerintah menyampaikan kebebasan bersyarat. Setelah menghirup udara bebas, Pak De lebih sering mengurusi ayam-ayamnya. Tubuhnya telah usang layu. Kumis tebalnya juga sudah berwarna kelabu. Kepada setiap orang kembali Pak De menyatakan: “Pak De tidak membunuh Ditje". Pak De dalam kasus pembunuhan itu merasa menjadi kambing hitam oleh polisi dan Polda Metro Jaya. "Sebenarnya ketika itu polisi tahu pembunuhnya," kata Pak De. Siapakah pelakunya? Pak De menyebut-nyebut sejumlah nama yang ketika itu bersahabat dengan kekuasaan. Entahlah, alasannya di negeri ini keadilan tidak berlaku bagi rakyat kecil

5. Kasus Pembunuhan Udin

 orang hilang atau terbunuh di luar negeri sering menjadi misteri yang tidak terpecahkan MENCENGANGKAN!! Misteri Kasus Kasus Besar Di Indonesia

Udin yakni seorang wartawan Harian Bernas di Yogyakarta yang tewas terbunuh oleh seseorang tidak dikenal. Udin yang berjulukan orisinil Fuad Muhammad Syafrudin pada selasa malam 13 Agustus 1996 kedatangan seorang tamu misterius yang kemudian menganiyaya dirinya dan pada tanggal 16 Agustus 1996 Udin harus mengembuskan nafas terakhirnya.

Udin tercatat sebagai seorang wartawan yang kritis terhadap kebijakan pemerintah Orde Baru dan militer.
Kasus Udin menjadi ramai lantaran Kanit Reserse Polres Bantul, Serka Edy Wuryanto dilaporkan telah membuang barang bukti dengan membuang sampel darah Udin ke maritim dan mengambil buku catatan Udin dengan dalih penyelidikan dan penyidikan.

Kasus Udin menjadi gelap akhir hilangnya beberapa bukti penting dalam pengungkapan kasus selesai hidup sang wartawan dan juga terdapat beberapa orang yang dikambing hitamkan atas bencana selesai hidup Udin. Seorang perempuan berjulukan Tri Sumaryani mengaku ditawari dengan imbalan sejumlah uang untuk menciptakan ratifikasi bahwa ia dan Udin telah melaksanakan hubungan gelap dan suaminya lah yang telah membunuh Udin.

Lalu Dwi Sumaji alias Iwik  seorang supir dari Dymas Advertising Sleman diculik di perempatan Beran Sleman kemudian dibawa ke Hotel Queen of the South Parangtritis dan dipaksa oleh Serka Edy Wuryanto yang mempunyai nama panggilan Franky supaya mengaku sebagai pembunuh Udin, sebelumnya di sebuah losmen berjulukan Losmen Agung yang juga berada di parangtritis Iwik dicekoki berbotol-botol minuman keras hingga mabuk dan disuguhi perempuan penghibur dan diberi akad uang, pekerjaan yang layak serta jaminan hidup buat keluarganya dimana sebelumnya ia dijebak oleh Edy Wuryanto dengan dalih pembicaraan bisnis Billboard. Di pengadilan Iwik mencabut seluruh "pengakuan" dirinya dalam pemeriksaan yang dilakukan oleh Polisi lantaran ia sebagai korban rekayasa dan berada dibawah ancaman tekanan dan paksaan oleh Kanit Reserse Polres Bantul Serka Edy Wuryanto.

Komnas HAM mengadakan pemeriksaan lapangan dan menyimpulkan telah terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia namun tetap saja Iwik dijadikan sebagai tersangka utama oleh Polisi dan diajukan ke persidangan, walau penuh teror dari aneka macam pihak kesudahannya Iwik divonis bebas oleh majelis hakim dan motif perselingkuhan yang selama ini dihembuskan secara otomatis gugur selain itu majelis hakim memerintahkan supaya polisi mencari, mengungkap motif, dan menangkap pelaku pembunuhan Udin yang sebenarnya. Dalam kesaksiannya di persidangan Iwik menyatakan bahwa dirinya selain menjadi korban rekayasa dan bisnis politik, ia hanya dipaksa menjalankan skenario rekayasa Franki alias Serma Pol Edy Wuryanto dengan alasan untuk melindungi kepentingan Bupati Bantul Sri Roso Sudarmo. Namun hingga kini para pelaku kejahatan pembunuhan terhadap sang wartawan yang kritis tersebut tidak ada yang ditangkap atau diadili ke meja hukum.

6. Kasus Marsinah

 orang hilang atau terbunuh di luar negeri sering menjadi misteri yang tidak terpecahkan MENCENGANGKAN!! Misteri Kasus Kasus Besar Di Indonesia

Marsinah hanyalah seorang buruh pabrik dan pelopor buruh yang bekerja pada PT Catur Putra Surya (CPS) di Porong Sidoarjo, Jawa Timur. Ia ditemukan tewas terbunuh pada tanggal 8 Mei 1993 diusia 24 tahun. Otopsi dari RSUD Nganjuk dan RSUD Dr Soetomo Surabaya menyimpulkan bahwa Marsinah tewas kerena penganiayaan berat.

Marsinah yakni salah seorang dari 15 orang perwakilan para buruh yang melaksanakan negosiasi dengan pihak perusahaan. Awal dari kasus pemogokan dan unjuk rasa para buruh karyawan CPS bermula dari surat edaran Gubernur Jawa Timur No. 50/Th. 1992 yang berisi himbauan kepada pengusaha supaya menaikkan kesejahteraan karyawannya dengan menyampaikan kenaikan honor sebesar 20% honor pokok. Himbauan tersebut tentunya disambut dengan bahagia hati oleh karyawan, namun di sisi pengusaha berarti tambahannya beban pengeluaran perusahaan. Pada pertengahan April 1993, Karyawan PT. Catur Putera Surya (PT. CPS) Porong membahas Surat Edaran tersebut dengan resah. Akhirnya, karyawan PT. CPS memutuskan untuk unjuk rasa tanggal 3 dan 4 Mei 1993 menuntut kenaikan upah dari Rp 1700 menjadi Rp 2250.

Siang hari tanggal 5 Mei, tanpa Marsinah, 13 buruh yang dianggap menghasut unjuk rasa digiring ke Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo. Di tempat itu mereka dipaksa mengundurkan diri dari CPS. Mereka dituduh telah menggelar rapat gelap dan mencegah karyawan masuk kerja. Marsinah bahkan sempat mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan keberadaan rekan-rekannya yang sebelumnya dipanggil pihak Kodim. Setelah itu, sekitar pukul 10 malam, Marsinah lenyap.

Mulai tanggal 6,7,8, keberadaan Marsinah tidak diketahui oleh rekan-rekannya hingga kesudahannya ditemukan telah menjadi mayat pada tanggal 8 Mei 1993. Pada tanggal 30 September 1993 dibuat tim Bakorstanasda Jatim  untuk melaksanakan penyelidikan dan penyidikan kasus pembunuhan Marsinah. Sebagai penanggung jawab Tim Terpadu yakni Kapolda Jatim dengan Dan Satgas Kadit Reserse Polda Jatim dan beranggotakan penyidik/penyelidik Polda Jatim serta Den Intel Brawijaya.

Delapan petinggi PT CPS ditangkap secara rahasia dan tanpa mekanisme resmi, termasuk Mutiari selaku Kepala Personalia PT CPS dan satu-satunya perempuan yang ditangkap, mengalami siksaan fisik maupun mental selama diinterogasi di sebuah tempat yang kemudian diketahui sebagai Kodam V Brawijaya. Setiap orang yang diinterogasi dipaksa mengaku telah menciptakan skenario dan menggelar rapat untuk membunuh Marsinah. Pemilik PT CPS, Yudi Susanto, juga termasuk salah satu yang ditangkap.

Baru 18 hari kemudian, kesudahannya diketahui mereka sudah mendekam di tahanan Polda Jatim dengan tuduhan terlibat pembunuhan Marsinah. Pengacara Yudi Susanto, Trimoelja D. Soerjadi, mengungkap adanya rekayasa oknum pegawapemerintah kodim untuk mencari kambing hitam pembunuh Marsinah. Secara resmi, Tim Terpadu telah menangkap dan menyidik 10 orang yang diduga terlibat pembunuhan terhadap Marsinah. Salah seorang dari 10 orang yang diduga terlibat pembunuhan tersebut yakni Anggota TNI.

Hasil penyidikan polisi ketika menyebutkan, Suprapto (pekerja di cuilan kontrol CPS) menjemput Marsinah dengan motornya di bersahabat rumah kos Marsinah. Dia dibawa ke pabrik, kemudian dibawa lagi dengan Suzuki Carry putih ke rumah Yudi Susanto di Jalan Puspita, Surabaya. Setelah tiga hari Marsinah disekap, Suwono (satpam CPS) mengeksekusinya.

Di pengadilan, Yudi Susanto divonis 17 tahun penjara, sedangkan sejumlah stafnya yang lain itu dieksekusi berkisar empat hingga 12 tahun, namun mereka naik banding ke Pengadilan Tinggi dan Yudi Susanto dinyatakan bebas. Dalam proses selanjutnya pada tingkat kasasi, Mahkamah Agung Republik Indonesia membebaskan para terdakwa dari segala dakwaan (bebas murni). Putusan Mahkamah Agung RI tersebut, setidaknya telah menjadikan ketidakpuasan sejumlah pihak sehingga muncul tuduhan bahwa penyelidikan kasus ini yakni "direkayasa".

Kasus ini menjadi catatan ILO (Organisasi Buruh Internasional), dikenal sebagai kasus 1713.  Hingga kini kasus Marsinah tetap menjadi misteri dan menjadi sejarah kelam ranah aturan di Indonesia.

7. Kasus Sum Kuning (1970)

 orang hilang atau terbunuh di luar negeri sering menjadi misteri yang tidak terpecahkan MENCENGANGKAN!! Misteri Kasus Kasus Besar Di Indonesia

Ini yakni kasus getir dan pahit dari seorang gadis muda berjulukan Sumarijem seorang gadis muda dari kelas bawah seorang penjual telur dari Godean Yogyakarta yang (maaf) diperkosa oleh segerombolan anak pejabat dan orang terpandang di kota Yogyakarta kala itu. Kasus ini merebak menjadi isu besar ketika pihak penegak aturan terkesan mengalami kesulitan untuk membongkar kasusnya hingga tuntas. Pertama-tama Sum Kuning disuap supaya tidak melaporkan kasus ini kepada polisi. Belakangan oleh polisi tuduhan Sum Kuning dinyatakan sebagai dusta. Seorang pedagang bakso keliling dijadikan kambing hitam dan dipaksa mengaku sebagai pelakunya.

Tanggal 18 September 1970 Sumarijem yang ketika itu berusia 18 tahun tengah menanti bus di pinggir jalan dan tiba-tiba diseret masuk kedalam sebuah kendaraan beroda empat oleh beberapa pria, didalam kendaraan beroda empat Sumarijem (Sum Kuning) diberi bius (Eter) hingga tak sadarkan diri, Ia dibawa ke sebuah rumah di kawasan Klaten dan diperkosa bergilir hingga tak sadarkan diri.

Kasus ini cukup pelik lantaran berdasarkan Jendral Pur Hoegeng mantan Kapolri bahwa para pelaku pelecehan seksual yakni belum dewasa pejabat dan salah seorang diantaranya yakni anak seorang jagoan revolusi (Hoegeng-Oase menyejukkan di tengah sikap koruptif para pemimpin bangsa, penerbit Bentang).
Dalam bukunya juga disebutkan bahwa Sum Kuning ditinggalkan ditepi jalan, Gadis malang ini pun melapor ke polisi. Bukannya dibantu, Sum malah dijadikan tersangka dengan tuduhan menciptakan laporan palsu. Dalam pengakuannya kepada wartawan, Sum mengaku disuruh mengakui kisah yang berbeda dari versi sebelumnya. Dia diancam akan disetrum jikalau tidak mau menurut. Sum pun disuruh membuka pakaiannya, dengan alasan polisi mencari tanda palu arit di tubuh perempuan malang itu.Karena melibatkan belum dewasa pejabat yang berpengaruh, Sum malah dituding anggota Gerwani. 

Saat itu memang masa-masanya pemerintah Soeharto gencar menangkapi anggota PKI dan underbouw-nya, termasuk Gerwani.Kasus Sum disidangkan di Pengadilan Negeri Yogyakarta. Sidang perdana yang ganjil ini tertutup untuk wartawan. Belakangan polisi menghadirkan penjual bakso berjulukan Trimo. Trimo disebut sebagai pemerkosa Sum. Dalam persidangan Trimo menolak mentah-mentah. Jaksa menuntut Sum penjara tiga bulan dan satu tahun percobaan. Tapi majelis hakim menolak tuntutan itu. Dalam putusan, Hakim Ketua Lamijah Moeljarto menyatakan Sum tak terbukti menyampaikan keterangan palsu. Karena itu Sum harus dibebaskan.Dalam putusan hakim dibeberkan pula nestapa Sum selama ditahan polisi. Dianiaya, tak diberi obat ketika sakit dan dipaksa mengakui berafiliasi tubuh dengan Trimo, sang penjual bakso. Hakim juga membeberkan Trimo dianiaya ketika diperiksa polisi.

Hoegeng terus memantau perkembangan kasus ini. Sehari setelah vonis bebas Sum, Hoegeng memanggil Komandan Polisi Yogyakarta AKBP Indrajoto dan Kapolda Jawa Tengah Komisaris Besar Suswono. Hoegeng kemudian memerintahkan Komandan Jenderal Komando Reserse Katik Suroso mencari siapa saja yang mempunyai fakta soal pelecehan seksual Sum Kuning."Perlu diketahui bahwa kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Makara kalau salah tetap kita tindak," tegas Hoegeng.Hoegeng membentuk tim khusus untuk menangani kasus ini. Namanya 'Tim Pemeriksa Sum Kuning', dibuat Januari 1971. 

Kasus Sum Kuning terus membesar menyerupai bola salju. Sejumlah pejabat polisi dan Yogyakarta yang anaknya disebut terlibat, membantah lewat media massa.Belakangan Presiden Soeharto hingga turun tangan menghentikan kasus Sum Kuning. Dalam pertemuan di istana, Soeharto memerintahkan kasus ini ditangani oleh Team pemeriksa Pusat Kopkamtib. Hal ini dinilai luar biasa. Kopkamtib yakni forum negara yang menangani masalah politik luar biasa. Masalah keamanan yang dianggap membahayakan negara. Kenapa kasus perkosaan ini hingga ditangani Kopkamtib??

Dalam kasus persidangan perkosaan Sum, polisi kemudian mengumumkan pemerkosa Sum berjumlah 10 orang. Semuanya anak orang biasa, bukan anak penggede alias pejabat negara. Para terdakwa pemerkosa Sum membantah keras melaksanakan pelecehan seksual ini. Mereka bersumpah rela mati jikalau benar memerkosa. Kapolri Hoegeng sadar. Ada kekuatan besar untuk menciptakan kasus ini menjadi bias. Tanggal 2 Oktober 1971, Hoegeng dipensiunkan sebagai Kapolri. Beberapa pihak menilai Hoegeng sengaja dipensiunkan untuk menutup kasus ini.

Sum sendiri kemudian bekerja di Rumah Sakit Tentara di Semarang. Dia kemudian menikah dengan seorang laki-laki yang sudah dikenalnya ketika masih dirawat. Tapi siapakah pelaku pelecehan seksual bekerjsama dari Sum Kuning masih menjadi tanda tanya besar hingga ketika ini alasannya baik Sum Kuning tetap pada pendiriannya bahwa pemerkosanya yakni sekumpulan anak pejabat maupun 10 cowok anak orang biasa yang diajukan ke pengadilan dan membantah habis-habisan tuduhan yang diajukan kepada mereka dan dijadikan sebagai kambing hitam untuk menutupi para pelaku sebenarnya.

8. Kasus Munir

 orang hilang atau terbunuh di luar negeri sering menjadi misteri yang tidak terpecahkan MENCENGANGKAN!! Misteri Kasus Kasus Besar Di Indonesia

Munir bekerjsama akan melanjutkan study S2 di Univeritas Utrecht, Belanda dan dalam kronologi kasus pembunuhan pelopor HAM tersebut disebutkan bahwa menjelang memasuki pintu pesawat, Munir bertemu dengan Polycarpus seorang pilot pesawat Garuda yang sedang tidak bertugas dan Polycarpus memperlihatkan kepada Munir untuk berganti tempat duduk pesawat dimana Munir menempati dingklik Polycarpus dikelas bisnis dan Polycarpus menempati dingklik Munir dikelas ekonomi.

Sebelum pesawat mengudara, flight attendant (Pramugari) Yetti Susmiarti dibantu Pramugara senior Oedi Irianto membagikan welcome drink kepada para penumpang dan Munir menentukan Jus Jeruk. Pukul 22.05 WIB pesawat lepas landas dan 15 menit kemudian kembali Flight Attendant membagikan masakan dan minuman kepada para penumpang, Munir menentukan mi goreng dan kembali menentukan jus jeruk sebagai minumannya, setelah mengudara hampir 2 jam pesawat mendarat di bandara Changi Singapura. Di bandara Changi Munir menghabiskan waktu di sebuah gerai kopi sedangkan seluruh awak pesawat termasuk Polycarpus berangkat menuju hotel memakai bus dan perjalanan dari Singapura menuju Belanda seluruh awak pesawatnya berbeda dari perjalanan Jakarta menuju Singapura.

Dalam perjalanan Munir meminta kepada flight attendant Tia Ambarwati segelas teh hangat dan Tia pun menyajikan segelas teh hangat yang dituangkan dari teko ke gelas diatas troli dilengkapi gula sachet. Tiga jam setelah mengudara Munir bolak balik ke toilet, ketika berpapasan dengan Pramugara berjulukan Bondan, Munir memintanya memanggil Tarmizi seorang dokter yang ia kenal ketika hendak berangkat yang kebetulan juga menuju Belanda, Tarmizi melaksanakan pemeriksaan umum dengan membuka baju Munir. Dia kemudian mendapati bahwa nadi di pergelangan tangan Munir sangat lemah. Tarmizi beropini Munir mengalami kekurangan cairan akhir muntaber. Munir kembali lagi ke toilet untuk muntah dan buang air besar dibantu pramugari dan pramugara. Setelah selesai, Munir ke luar sambil batuk-batuk berat.Tarmizi menyuruh pramugari untuk mengambilkan kotak obat yang dimiliki pesawat.

Kotak pun diterima Tarmizi dalam keadaan tersegel. Setelah dibuka, Tarmizi beropini bahwa obat di kotak itu sangat minim, terutama untuk kebutuhan Munir: infus, obat sakit perut mulas dan obat muntaber, semuanya tidak ada. Tarmizi pun mengambil obat di tasnya. Dia memberi Munir dua tablet obat diare New Diatabs; satu tablet obat mual dan perih kembung, Zantacts dan satu tablet Promag. Tarmizi menyuruh pramugari menciptakan teh manis dengan aksesori sedikit garam. Namun, setelah lima menit meminum teh tersebut, Munir kembali ke toilet. Tarmizi menyuntikkan obat anti mual dan muntah, Primperam, kepada Munir sebanyak 5 ml. Hal ini berhasil lantaran Munir kemudian tertidur selama tiga jam. Setelah terbangun, Munir kembali ke toilet. Kali ini ia agak lama, sekitar 10 menit, ternyata Munir telah terjatuh lemas di toilet.

Dua jam sebelum pesawat mendarat, terlihat keadaan Munir: mulutnya mengeluarkan air yang tidak berbusa dan kedua telapak tangannya membiru. Awak pesawat mengangkat tubuh Munir, memejamkan matanya dan menutupi tubuh Munir dengan selimut. Ya, Munir meninggal dunia di pesawat, di atas langit Negara Rumania. Setelah dilakukan penyelidikan termasuk oleh pihak otoritas Belanda ditemukan bahwa didalam tubuh Munir ditemukan kandungan racun Arsenik sebanyak 460mg didalam lambungnya dan 3.1mg/l dalam darahnya. Namun terdapat keganjilan setelah dilakukan otopsi oleh pihak RS Dr Soetomo dimana kandungan arsenik yang ditemukan didalam lambung Munir sedikit ganjil lantaran seharusnya kandungan arsenik tersebut sudah hancur/melarut.

Ini terkesan mempertegas spekulasi jikalau kandungan arsenik dalam tubuh Munir gres dimasukkan ketika jenazahnya sudah di Indonesia. Spekulasi ini juga diperkuat dengan usul mereka untuk menahan lebih usang organ tubuh Munir. Spontan ini juga menjadikan indikasi bahwa hal itu dilakukan supaya organ tubuh Munir sanggup dipersiapkan (dimark-up) supaya benar-benar akan terkesan keracunan arsenik ketika diperiksa oleh pihak lain. Disebutkan juga ciri-ciri korban yang keracunan arsenik, antara lain: ada pembengkakan otak, paru paru yang mengalami kerusakan, ekspresi keluar darah lantaran indikasi kerusakan sistem pencernaan. Ketika arsenik masuk kedalam tubuh (dan racun mulai bekerja), biasanya korban mengalami muntaber berat disertai kejang-kejang.

Apapun itu penyebab selesai hidup pelopor HAM tersebut namun hingga kini sepertinya kasus tersebut belum tuntas walaupun ada beberapa orang yang telah dijatuhi vonis oleh pengadilan namun Suciwati selaku istri Munir tetap merasa tidak puas dan meminta pemerintah menuntut secara tuntas kasus selesai hidup suaminya. Apakah ini tindakan kontra intelijen ataupun sebuah operasi pembunuhan oleh intelijen? tidak ada yang mengetahui bencana bekerjsama kecuali mungkin para pelaku utama pemberi perintah untuk membunuh sang aktivis. Namun yang niscaya didalam sebuah kasus pembunuhan terpola harus ada motif dan tujuan dari melenyapkan seseorang, apakah pihak dinas intelijen RI begitu kurang pintar untuk membunuh seseorang yang secara aktif mengkritisi aneka macam masalah HAM di indonesia dan jikalau ia dihilangkan secara paksa niscaya mata dan tuduhan internasional niscaya akan mengarah kepada pemerintah Indonesia, dan pihak militer serta tubuh intelijennya, atau mungkin ada beberapa pihak yang telah gelap mata akhir sikap kritis dari Munir yang menciptakan mereka mengambil keputusan untuk menghabisinya, sebuah misteri yang belum terungkap hingga kini.

Sumber : jakartapress.com, id.wikipedia.org, merdeka.com, tempo.co, rajawalinews.com/7612/kronik-kasus-penculikan-dan-penghilangan-paksa-aktivis-1997-1998/, detik.com, politik.kompasiana.com/ /search?q=asal-mula-dan-misteri-gunung-fujiyama

Comments

Popular posts from this blog

Mencengangkan!! Cerita Tragis Para Rockstar Yang Mati Di Usia Keramat 27 Tahun

Sebuah fenomena ajal memang tidak sanggup kita tebak kapan dan menyerupai apa datangnya, lantaran kehendak Sang Maha Kuasa memang sebuah misteri dan tidak sanggup kita ganggu gugat sedikitpun. Kematian yang tiba kepada setiap insan itu sifatnya pasti, namun yang membedakannya ialah masalah waktu dan bagaimana cara ajal itu sendiri datang. Kali ini, kita akan membahas beberapa fenomena ajal dari musisi-musisi populer yang hingga pada ketika ini masih menjadi misteri yang banyak diperbincangkan khalayak umum. Fenomena ajal dari para musisi itu juga banyak melahirkan teori-teori konspirasi yang menciptakan para penggemarnya juga tidak habis pikir. Adapun beberapa nama dari formasi musisi dunia itu mengalami ajal yang meninggalkan tanya besar besar, lantaran formasi musisi itu meninggal pada usia yang sama, yaitu umur 27 tahun. Kalau dibilang kebetulan, itu nampaknya juga masih perkiraan yang agak diragukan, lantaran selain ajal mereka yang tragis, mereka mati di usia yang sama. Banya...

Mencengangkan!! Guru Dan Dosen Tercantik Juga Paling Ganteng Bikin Betah

Perbedaan yang sangat mencolok dalam gambaran seorang guru. Dulu guru atau dosen sering digambarkan dengan seseorang dengan wajah ketus, galak sehingga angker untuk murid atau mahasiswanya. Berbeda dengan sekarang, muncul wajah wajah guru yang rupawan dan dosen yang anggun ataupun tampan yang menciptakan betah tinggal dikelas dan mengikuti pelajarannya. Wajah para pendidik bangsa ini sempat viral alasannya ialah penampilan mereka yang membuatnya menjadi selebritas internet. Berikut guru dan dosen yang tercantik dan paling tampan yang membuatmu betah dikelas . Lee Nayeong Guru Sekolah Menengan Atas Cantik Lee Nayeong ialah perempuan muda yang berprofesi sebagai guru di Korea Selatan ini mempunyai wajah dan bentuk badan khas model papan atas. Ia menerima sorotan dari masyarakat Korea Selatan dan para media alasannya ialah dengan kecantikannya ia justru menentukan menjalani karier sebagai guru. Ketika duduk di dingklik kuliah Lee Nayeong menerima predikat Ulzaang yaitu sebuta...

Mencengangkan!! Simak Sejarah Unik Munculnya Boneka Ventriloquist

Bagi sahabat anehdidunia.com yang belum mengetahui apa itu boneka Ventriloquist, boneka ini merupakan boneka yang di pakai dalam dunia hiburan panggung, yaitu dengan cara menggerakkan bab bibirnya serta matanya secara manual, lalu sang penggagas itu akan mengeluarkan suara  buatan guna menciptakan si boneka solah-olah hidup dan mempunyai perasaan. Dikisahkan, awalnya Ventriloquisme atau juga disebut dengan Ventriloquism ini merupakan seni berbicara dengan tanpa harus  menggerakkan ekspresi atau bibir. Ventriloquis berasal dari serapan kata bahasa Latin, yaitu “venter”, yang artinya yaitu perut, serta “loqui” yang artinya yaitu berbicara. Ventriloquisme ini sering juga banyak diartikan sebagai sebuah ilmu ataupun keterampilan dalam berbicara memakai perut. Bahkan dalam perkembangan dunia Ventriloquisme ini, ada beberapa orang mahir Ventriloquis yang bisa bersuara perut yang seakan-akan si boneka berada di kawasan yang jauh atau di ruangan yang lainnya. Dalam pemaknaan di bahas...